Belakangan ini pemerintah tampak makin serius menyoroti vape. Bukan lagi sekadar isu kesehatan atau regulasi produk, tapi sudah merambah ke ranah yang lebih berat yaitu penyalahgunaan narkoba. Argumennya pun terdengar masuk akal di permukaan. Pemerintah menganggap bahwa vape bisa digunakan sebagai medium untuk mengonsumsi zat terlarang, maka perangkatnya perlu dibatasi.
Bagi pengguna vape, perangkat ini hanyalah sebuah alat. Perangkat gak punya niat, gak punya kehendak, apalagi agenda tersembunyi. Sama seperti gelas, ia gak punya kehendak untuk diisi air putih atau minuman keras. Vape hanya medium yang bergantung pada apa yang dimasukkan ke dalamnya. Ketika pemerintah lebih fokus ke penyalahgunaannya, vapers mulai mempertanyakan banyak hal, salah satunya: kok mereka lebih sibuk mengatur medium daripada isinya?
Kekhawatiran pemerintah tentu gak bisa dianggap remeh. Penyalahgunaan narkoba adalah persoalan serius yang menyentuh banyak aspek. Mulai dari kesehatan, keamanan, hingga masa depan generasi muda. Namun justru karena seriusnya masalah ini, pendekatan yang diambil harusnya juga tepat sasaran. Membatasi vape sebagai respons terhadap penyalahgunaan narkoba, bagi saya sendiri, terasa aneh dan cukup mengganggu.
Kalau sebuah alat bisa disalahgunakan, apa alatnya yang harus disingkirkan? Kalau iya, mungkin kita harus siap hidup di dunia yang sangat sunyi—tanpa banyak benda dan tanpa banyak pilihan. Karena hampir semua benda bisa disalahgunakan.
Para vapers bukan sedang menolak regulasi. Justru banyak di antara mereka setuju bahwa pengawasan itu penting—baik dari sisi kualitas produk, distribusi, maupun edukasi pengguna. Yang membuat vapers keberatan adalah arah fokusnya. Ketika perhatian lebih besar diberkan pada alat dibanding substansi, ada kekhawatiran bahwa kebijakan yang lahir akan terasa tegas di atas kertas, tapi tumpul di lapangan.
Pada dasarnya, masalah narkoba bukan soal bagaimana ia dikonsumsi, melainkan bagaimana ia bisa beredar, diakses, dan akhirnya digunakan. Selama substansinya masih ada dan jalur distribusinya tetap terbuka, membatasi satu medium hanya akan menggeser cara, bukan menyelesaikan persoalan. Hari ini vape, besok bisa jadi medium lain. Masalahnya tetap sama, hanya mediumnya yang berganti.
Keinginan para vapers sangat sederhana: jangan sampai kita terjebak dalam ilusi kontrol. Mengatur sesuatu yang telihat lebih mudah sering kali memberi rasa seolah-olah kita sedang melakukan tindakan besar, padahal yang sulit—dan sangat penting—justru belum benar-benar tersentuh.
